Jumat, 09 November 2012

Pendekatan Inkuiri Dalam Pembelajaran Pendidikan IPS SD


PENDEKATAN INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS SD

MODEL INKUIRI
A.    Pengertian
Inkuiri adalah salah satu cara belajar yang bersifat mencari sesuatu secara kritis, analitis, argumental ( ilmiah ) dengan menggunakan langkah – langkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan, karena didukung oleh data.
Inkuiri dapat dilakukan secara individu, kelompok atau klasikal, serta dapat dengan catat tanya jawab, diskusi atau kegiatan di dalam maupun di luar kelas.
Untuk lebih jelas gambaran yang menyeluruh tentang inkuiri dapat kita gambarkan sebagai berikut : bahwa dalam kehidupan sehari – hari sering kita dihadapkan kepada sesuatu hal atau masalah. Dan kita dihadapkan pada:
(1)   Mempercayai hal tersebut atau tidak, (2) keharusan mengambil sikap, (3) mengambil kesimpulan.
Contoh :
Anda akan berjalan menuju ke suatu tempat, tetapi ada berita bahwa jembatan yang menuju tempat tersebut putus, percayakah Anda akan hal itu? Bagaimana caranya agar bisa percaya dan yakin akan berita itu? Dan jalan apa yang Anda tempuh ke tempat tujuan tersebut?
Pada contoh di atas, kita akan menemukan orang yang begitu mendengar lalu percaya tanpa menanyakan lebih jauh. Ada juga orang yang percaya dengan meminta keterangan lebih jauh, selain itu ada juga yang ragu serta ingin meyakinkannya dengan cara sendiri. Pengajaran IPS tidak menginginkan melahirkan tipe manusia yang pertama (percaya bagitu saja), paling tidak dia harus meminta keterangan dan mengolah kebenaran berita tersebut. Dan lebih ideal lagi dia harus meyakinkannya, sehingga dia menjadi manusia yang kritis dan memanfaatkan potensinya serta percaya akan diri sendiri.
Gejolak kehidupan masyarakat sungguh cepat berubahnya, maka siswa hendaknya dibekali senjata hidup yang ampuh ialah kemampuan menangkap sesuatu. Inkuiri antara lain melatih hal tersebut. Inkuiri adalah teknik pemecahan masalah secara ilmiah.
Inkuiri atau discoveri dengan segala variasinya serta problem solving (pemecahan masalah), dalam IPS dianggap sebagai cara ilmiah yang paling cocok untuk dipergunakan sebagai cara kerja (metode) IPS.
Thorstone dalam bukunya Scaling Attitude mengemukakan bahwa hal yang paling terpenting dalam inkuiri adalah siswa mencari sesuatu sampai tingkat “yakin”. Tingkatan mana dicapai melalui dukungan data, analisis, interpretasi serta pembuktiannya.
Problem solving lebih menitikberatkan kepada terpecahnya sesuatu masalah yang menurut perkiraan rasio logis, benar atau tepat. Perbedaan lain ialah tingkatan dan cara kerjanya, dalam inkuiri tingkatannya lebih tinggi serta lebih komplikatif (ruwet). Inkuiri diterima para ahli IPS sebagai bendera dari IPS, maka mereka sangat menganjurkan cara kerja ini untuk banyak dipergunakan dalam pelajaran IPS dengan berbagai jenis tingkatan ( dari yang sederhana sampai tingkat yang paling tinggi ). Inkuiri yang paling sederhana menggunakan tanya jawab klasikal, di mana peran aktif tetap di tangan siswa. Guru hanya mengarahkan, membina, memancing jawaban dan lain – lain. Inkuiri sederhana ini juga bisa dalam bentuk kegiatan perbuatan secara sederhana.

B.     Tujuan / kegunaan inkuiri
1.      Mengembangkan sikap, keterampilan siswa untuk mampu memecahkan masalah serta mengambil keputusan secara objektif dan mandiri.
2.      Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa. Proses berpikir terdiri dari serentetan keterampilan -  keterampilan (mengumpulkan informasi, membaca data, dan lain – lain ), yang penerapannya memerlukan latihan serta pembiasaan / pembukuan.
3.      Melalui inkuiri, kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi yang benar – benar dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam ragam alternatif.
4.      Membina mengembangkan sikap penasaran ( ingin tahu lebih jauh ) dan cara berpikir objektif mandiri kritis analitis baik secara individual maupun kelompok. Untuk ini program dan jalannya pelajaran hendaknya :
a)      Memberikan kesempatan pengembangan individu dan siswa sentries,
b)      Dibina suasana belajar yang bebas dari tekanan, ketakutan atau paksaan.
Beberapa pedoman untuk dikemukakan menciptakan iklim inkuiri ( dalam kelas / kelompok ) agar berhasil dengan baik Jarolimek, ( 1974:199-200 ) :
1.      Kelas diarahkan kepada pokok permasalahan yang telah jelas rumusnya, patokan cara inkuirinya serta arah tujuannya,
2.      Agar dipahami bahwa tujuan inkuiri adalah pengembangan kemampuan membuat pikiran serta proses berpikir. Peranan pertanyaan dan kemampuan mengemukakan pertanyaan ( teknik bertanya dari guru akan sangat menentukan keberhasilan inkuiri ).
3.      Hendaknya diberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengemukakan berbagai kemungkinan ( alternatif ) dalam bertanya dan menjawab.
4.      Bahwa cara menjawab dapat diutarakan dalam berbagai cara sepanjang hal ini mengenai permasalahan yang sedang di inkuiri.
5.      Bahwa pada umumnya inkuiri menggali nilai – nilai atau sikap, maka hendaknya hormatilah sistem nilai dan sikap siswa – siswa anda.
6.      Guru hendaknya menjaga diri untuk tidak menjawab sendiri pertanyaan – pertanyaan .
7.      Usahakan selalu jawaban bersifat merata dan komparatif.
Mengingat pentingnya peran pertanyaan guru, maka dianjurkan agar pertanyaan tersebut disiapkan sebelumnya dan meliputi pertanyaan yang bersifat menjajagi, recall, mencari penjelasan, mengklasifikasikan, pengarahan, melibatkan diri siswa, mencari kesimpulan, bersifat hipotesis, atau kepastian dan lain – lain.
Berikut ini contoh inkuiri yang sederhana. Model dan langkah ini antara lain diketengahkan oleh W.Bechtal sebagai berikut :
Langkah
Kegiatan
a.       Membina suasana yang responsif






b.      Mengemukakan permasalahan yang akan diinkuiri. Catatan : dalam langkah ini harus tidak menjawab sendiri pertanyaanya, arahkan agar siswa dapat menjawabnya.




c.       Pertanyaan – pertanyaan siswa






d.      Merumuskan hipotesis




e.       Menguji hipotesis
Guru : menjelaskan arti dan proses inkuiri. Dijelaskan bahwa dia akan pertanyaan yang harus dijawab siswa dengan “ya” atau “tidak”. Memberikan contoh hal tersebut beberapa hal.
Siswa : memperhatikan penjelasan guru dan bertanya jika belum jelas / mengerti.
Guru : melemparkan permasalahan melalui cerita, film, gambar dan lain – lain. Kemudian mengajukan pertanyaan – pertanyaannya ke arah mencari, perumusan dan memperjelas permasalahan dari gambar tadi. Tanya jawab berhenti bila masalah telah terumuskan dan jelas.
Siswa : Memperhatikan, menganalisis, merumuskan dan menjawab.
Siswa : mengajukan pertanyaan yang bersifat mencari atau mengajukan informasi atau data tentang masalah tersebut.
Guru : Hanya menjawab ya atau tidak atau seperlunya mengarahkan pertanyaan pada permasalahannya.
Siswa : Mencoba merumuskan hipotesis permasalahan tersebut (tentang sebab atau pemecahan masalah tersebut).
Guru : membantu dan mengarahkan dalam bentuk pertanyaan pengarahan / pancingan.
Guru : mengajukan pertanyaan yang bersifat meminta data, pembuktian dan data.
Siswa : menjawab dan memberikan serta membuktikan data dan kebenarannya.


Langkah di atas akan sempurna bila kemudian diakhiri dengan pengambilan kesimpulan dan perumusan – perumusan. Kegiatan ini di lakukan guru bersama siswa. Pendekatan dengan inkuiri di atas ialah inkuiri / discoveri terpimpin serta problem solving. Untuk lebih jelasnya ikutilah langkah – langkah dan gambaran problem solving dari J. Dewey berikut ini :
Langkah – langkah problem solving
Kemahiran yang diperlukan
a.       Merumuskan permasalahan

b.      Menelaah permasalahan tersebut


c.       Membuat / merumuskan hipotesis


d.      Menghimpun, mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis


e.       Pembuktian hipotesis





f.       Menentukan pilihan pemecahan masalah / keputusan
a.       Mengetahui dan merumuskan permasalahan secara jelas
b.      Gunakan pengetahuan untuk memperinci dan menganalisis masalah tersebut dari berbagai sudut.
c.       Kecakapan berimajinasi / menghayati ruang lingkup, sebab akibat serta alternatif pemecahan masalah.
d.      1. Kecakapan mencari dan menyusun data
2. memperagakan data dalam bentuk bagan, gambar dan lain – lain.
e.       1. Kecakapan menelaah dan membahas data
2. kecakapan menghubung-hubungkan atau menghitung data terhadap hipotesis
3. ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan dari hal – hal di atas.
f.       1. Kecakapan membuat alternatif pemecahan
2. kecakapan memilih alternatif
3. kecakapan menilai pilihan beserta perhitungan akibat – akibatnya kelak.


Pada metode Problem Solving, peran guru dan siswa tetap seperti di atas. Namun guru dapat berbuat lain, tidak hanya sebagai penanya melainkan juga dapat sebagai pemancing dan pemberi arah dengan memberikan hal – hal yang bersifat menuntut jawaban ke arah yang di harapkan.
Berikut ini contoh inkuiri sederhana / singkat dalam bentuk tanya jawab :
G : dalam rencana pelajarannya ingin mengemukakan masalah kejujuran. Untuk itu akan digunakan inkuiri singkat dengan memberikan suatu cerita / contoh untuk dipecahkan siswa. Misalnya tentang menemukan dompet di jalan. Masalah : diapakan ?
G : kalau kalian yang menemukan itu, apa yang kalian kerjakan ?
S  : (siswa 1) apakah dalam dompet itu ada isinya ? apa isinya ? ( mencari data )
G : di dalam ada uangnya banyak sekali, ada foto tetapi tidak ada tulisan apa – apa. Sekarang coba kalian pecahkan, mau diapakan dompet ini bila kalian yang menemukan ? ( kembali merumuskan masalah sambil memberi informasi )!
S2: saya akan tanya dahulu orang sekitar tentang siapa yang baru saja lewat di situ ! ( masih mencari data )
G : bila sudah kamu temukan keterangan tentang itu, apa langkah kamu selanjutnya ?
S2: maka saya bisa menduga bahwa pemilik itu ialah dia yang fotonya ada di dalam dompet itu, atau bila dia bukan orang nya maka orang yang ada fotonya itu pasti kenal dengan pemilik dompet ! ( mulai membuat hipotesis )
G : mengapa kamu tidak menduga bahwa itu milik seorang wanita ?( menguji hipotesis)
S3: sebab wanita tidak biasa membawa dompet  melainkan tas tangan.

...dan seterusnya...dan seterusnya...dialog tanya jawab ini bisa dilanjutkan sampai dicapai suatu kesimpulan yang diperkirakan mendekati kebenarannya atau dicapai kesepakatan pemecahan dengan menyerahkan kepada polisi dan lain – lain.
Pada inkuiri yang lebih tinggi, pencarian data untuk pemecahan masalah itu dapat dengan jalan : studi kepustakaan, studi di lapangan, atau lainnya. Namun proses pelaksanaan kegiatan inkuiri tetap dalam inkuiri terbuka atau tanya jawab. Bedanya bila dalam inkuiri sederhana, data berdasarkanpengetahuan siap atau perkiraan. Dalam inkuiri yang lebih tinggi data didukung oleh pendapat atau sumber atau kenyataan.

Pendekatan Inkuiri
Pendekatan inkuiri memperkenalkan konsep – konsep untuk para siswa secara induktif. Belajar dengan menggunakan pendekatan induktif yang mencangkup proses berpikir dari hal – hal yang bersifat khusus kepada hal – hal yang bersifat umum dimulai dengan upaya guru memperkenalkan sejumlah contoh konsep yang spesifik. Para siswa mempelajari contoh – contoh itu dan mencoba menyimpulkannya dengan cara membuat pertanyaan atau kalimat yang sesuai dengan karakteristik konsep tersebut. Misalnya, seorang guru di sekolah dasar ingin mengajarkan konsep “ burung “. Guru bisa mulai dengan menunjukkan berbagai gambar burung kepada para siswa. Rangkaian pertanyaan dapat diajukan untuk mengidentifikasi ciri – ciri dari gambar tersebut.  Kemudian untuk menyimpulkan pelajaran, guru dapat membantu para siswa dalam membuat definisi tentang burung. Misalnya dengan menampilkan gambar “ burung “ lainnya untuk membantu siswa dalam mengujin kebenaran definisi. Dengan demikian, belajar inkuiri dapat dianggap sebagai suatu latihan dalam memperoleh pengetahuan. Para siswa di beri pertanyaan untuk mengembangkan kesimpulan berdasarkan pertimbangan bukti – bukti yang telah dimilikinya.

Kecakapan Belajar Inkuiri
Pembelajaran inkuiri menerapkan metode ilmiah untuk masalah – masalah belajar dan umumnya digunakan dalam mata pelajaran IPS di sekolah dasar. Filsuf pendidikan Amerika terkenal, John Dewy , menyarankan langkah – langkah pembelajaran inkuiri dalam buku klasiknya How We Think yang diterbitkan tahun 1910 sebagai berikut :
Ø  Menggambarkan indikator – indikator masalah atau situasi
Ø  Memberikan kemungkinan jawaban atau penjelasan
Ø  Mengumpulkan bukti – bukti yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran jawaban atau penjelasan
Ø  Menguji kebenaran jawaban sesuai dengan bukti – bukti yang terkumpul
Ø  Merumuskan kesimpulan yang didukung oleh bukti yang terbaik.

Pembelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat diterapkan pada semua jenjang dan kelas. Untuk siswa sekolah dasar pada kelas – kelas rendah dapat juga menggunakan pendekatan inkuiri ini melalui pembelajaran – pembelajaran yang sederhana, misalnya siswa mengawali dengan belajar bagaimana belajar dan bekerja dengan menggunakan peta dan globe.
Di bawah ini adalah contoh pembelajaran inkuiri tentang “ Peta dan Globe “ pada kelas 3 SD.
Tujuan : pada akhir proses belajar mengajar diharapkan para siswa dapat ( 1 ) mengenal simbol – simbol yang ada di dalam peta dan ( 2 ) mengemukakan alasan mengapa harus menggunakan simbol yang berbeda – beda.
Prosedur : bimbinglah siswa melalui langkah – langkah berikut :
Tahap I
Guru : Siapa di antara kamu yang pernah melihat danau ? Sungai ? Adakah di antara kamu yang pernah melihat laut ? Seperti apakah sungai, danau, dan laut itu ?(Siswa menjawab setiap pertanyaan. Kembangkan pertanyaan itu hingga para siswa menyebutkan bahwa semua tempat itu berisi air ). Tahukah kamu bahwa lautan lebih luas daripada daratan ? orang yang membuat peta dan globe mempunyai kesulitan karena harus dapat meyakinkan orang lain wilayah mana yang berupa daratan dan wilayah mana yang berbentuk lautan.
Tahap 2
Guru : Bagaimana pembuat globe untuk mengatasi kesulitan itu ? Bagaimana pendapatmu tentang cara menunjukkan lokasi perairan ?
Kemungkinan jawaban siswa :
Ø  Mungkin siswa menuliskan kata “ air “ pada tempat yang ada airnya.
Ø  Mungkin juga mereka menggambar gelombang pada tempat yang ada air.
Ø  Mereka mungkin mewarnai bagian / tempat yang ada airnya.

Tahap 3
Guru : Anggaplah bahwa kita adalah ilmuwan yang akan menguji pendapat siapa yang paling cepat. Mari kita lihat bola dunia ini. ( Pegang bola dunia ini ) Coba berikan nama laut ini ? ( Apabila kamu tidak tahu coba bantu oleh yang lainnya ). Baiklah, mari kita liat Laut Jawa. Ini ada di peta. Apa warnanya ? ( siswa menjawab: “ biru “) Mari lihat pulau Samudra Indonesia. Inilah ada di peta. Apa warnanya ? ( Siswa menjawab : warnanya sama – biru ).

Tahap 4
Beri lagi pertanyaan untuk membuktikan bahwa mereka telah menguasainya. Beri pula dorongan agar mereka bercerita atau menjelaskan apa yang  telah mereka ketahui.
Guru : berdasarkan informasi yang telah kita ketahui, bagaiman pembuat bola dunia menggambar lautan agar berbeda dengan simbol lainnya ? ( siswa menjawab : “ warnanya biru “) Tahukah kamu mengapa pembuat bola dunia memilih cara membuat simbol laut dengan warna biru ? Maksud saya, mengapa mereka tidak menuliskan “ air “ pada tempat – tempat yang menunjukkan lautan atau menggambarkan gelombang ? ( Para siswa menjawab : “Apabila pembuat bola dunia itu menuliskan kata “ air “ maka ia harus menuliskan kata air berapa kali ?. karena ada wilayah perairan laut sempit sehingga akan sulit menuliskan kata “ air “ untuk menunjukkan suatau sungai. Menggambarkan gelombang untuk lautan mungkin saja, namun kesulitan untuk sungai.)

Tahap 5
Tahap ini adalah kesimpulan dari seluruh pelajaran. Selain itu, pada tahap ini pun dirancang untuk membuat penjelasan umum yang dapat diterapkan dalam situasi lainnya.
Guru : Dari apa yang telah kita pelajari, dapatkah kamu mengemukakan simbol wilayah perairan pada peta dan bola dunia (globe) ? ( Siswa menjawab : “ Wilayah perairan itu digambarkan dengan warna biru “).
Marilah kita perhatikan peta dan bola dunia lainnya. Samakah simbol yang dibuat untuk wilayah perairan laut ? ( Guru dan siswa melihat – lihat peta dan bola dunia lainnya ). Kesimpulannya : “ Umumnya pada peta dan bola dunia, warna biru digunakan untuk menunjukkan perairan “.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri di sekolah dasar untuk kelas yang lebih tinggi dapat dengan cara melakukan analisis terhadap suatu data.

Contoh model inkuiri untuk siswa SD kelas 6 dengan topik kependudukan.
Topik : Penduduk Indonesia
Tujuan : pada akhir proses belajar mengajar diharapkan para siswa dapat mengembangkan generalisasi yang menjelaskan hubungan antara luas areal, persentase, dan Kepadatan Penduduk dengan cara membandingkan data yang terdapat dalam bagan.
Prosedur : anggaplah kita akan memperkenalkan suatu pembelajarn yang memfokuskan pada kependudukan dan luas areal antarpulau yang ada di Indonesia. Data yang ada di dalam bagan ini di rancang untuk pembelajaran IPS yakni informasi yang akan di gunakan oleh siswa untuk mengembangkan generalisasi. Setelah mengkaji data, para siswa di harapkan dapat menguji tingkat akurasi dari generalisasi yang dubuatnya.

Luas areal, persentase, dan kepadatan penduduk di Indonesia ( 1971, 1980, 1985 )
kawasan
Persentase luas areal
Persentase penduduk
Kepadatan penduduk
1971
1980
1985
1971
1980
1985
Jawa
Sumatera
Kalimantan
Sulawesi
Irian Jaya
Maluku
Bali
Nusa Tenggara
6,89
24,67
28,11
9,85
21,99
0,29
4,61
63,83
17,45
4,32
7,15
0,84
0,92
1,78
5,55
61,88
19,00
4,56
7,05
0,79
0,96
1,67
5,67
60,88
19,85
4,71
7,04
0,94
0,98
1,62
5,70
576
44
10
45
2
15
381
75
690
59
12
55
3
19
444
96
755
69
14
61
3
22
476
106
Indonesia
100,0
100
100
100
62
77
85
Bagikan tabel ini kepada siswa atau dapat pula digambarkan pada papan tulis, atau ditayangkan melalui OHP. Mulailah dengan meminta siswa memperhatikan tabel secara seksama dan jawablah pertanyaan – pertanyaan berikut ini :
1.      Apakah persamaan umum di antara pulau – pulau yang di bandingkan ini ?
Kemungkinan jawaban siswa ( generalisasi ):
·         Semua pulau itu berada di wilayah Negara Kesatuan RI
·         Tingkat Kepadatan penduduk mengalami kenaikan dari tahun 1971 sampai tahun 1985.
2.      Apakah perbedaan yang dapat kamu kemukakan dari tabel itu?
Kemungkinan jawaban siswa ( generalisasi ) :
·         Luas areal pulau ada yang luas ada yang sempit. Kalimantan adalah pulau yang paling luas.
·         Persentase penduduk pun berbeda. Pulau yang paling banyak penduduknya adalah Jawa.
·         Tingkat Kepadatan Penduduk pun tidak merata. Jawa adalah pulau terpadat penduduknya.
3.      Kamu telah mengemukakan beberapa perbedaan penting yang terjadi antar pulau.

Dapatkah kamu kemukakan faktor penyebab terjadinya perbedaan itu. Kemungkinan jawaban siswa ( generalisasi ) :
·         Perbedaan luas areal disebabkan oleh kejadian alam.
·         Pulau Jawa paling padat penduduknya karena ibu kota negara ada di pulau Jawa.
·         Jawa pun dikenal sebagai pulau yang indah dan subur tanahnya.
( ini hanyalah contoh. Sekarang mungkin kondisinya telah berubah terutama tentang persebaran penduduk ).
Guru : “ Baiklah, kamu semua telah dapat membuat jawaban ( generalisasi ) dengan baik. Marilah kita tuliskan satu persatu di papan tulis “. “ kita akan melanjutkan pelajaran kita minggu depan “. “ Namun demikian sekarang mari kita uji dulu tingkat kebenaran dari generalisasi yang btelah di buat itu “. “ Saya minta kamu semua membuat pernyataan baru apabila ditemukan adanya informasi baru yang dapat mendukung kebenaran generalisasi atau memperbaiki generalisasi yang telah kita buat ini “.
Data yang ada di dalam tabel ini membantu siswa mengembangkan wawasannya tentang kependudukan di Indonesia. Secara langsung mereka terlibat dalam pembuatan informasi baru. Informasi ini pada gilirannya dapat mengantarkan para siswa untuk melakukan studu lanjutan. Kesempatan menguji generalisasi sering mengakibatkan para siswa menjadi lebih antusia melakukan pencarian informasi baru yang berkaitan dengan topik bahasan.

Kecakapan Berpikir Kreatif ( Creatiive Thinking )
Berpikir kreatif lebih mengutamakan pada pendekatan untuk memecahkan masalah yang membingungkan. Umumnya para penemu adalah orang – orang kreatif. Orang yang menciptakan musik angklung di Jawa Barat adalah orang kreatif. Ia dapat menyusun bambu yang dapat menimbulkan bunyi sesuai dengan tangga nada. Berpikir kreatif membantu kita dalam menyesuaikan diri dengan perubahan. Para ahli percaya bahwa perubahan berjalan cepat. Oleh karena itu, membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kreatif yang dapat menuntun mereka menyesuaikan diri dengan kondisi hidupnya akan sangat berguna bagi kehidupannya.